Minggu, 25 September 2011

Ganja a.k.a Cannabis







Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.
Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.
Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap hashish melalui pipa chilam/chillum, dan dengan meminum bhang.

Kontroversi

Di beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia. Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara para pengguna tertentu.
Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir. Namun, hal ini masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya. Selain diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan musisi).
Berdasarkan penelitian terakhir, hal ini (lonjakan kreativitas), juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah hasil silangan modern "Cannabis indica" yang berasal dari India dengan "Cannabis sativa" dari Barat. Jenis ganja silangan inilah yang tumbuh di Indonesia.
Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu. Segolongan tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berfikir kreatif (bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan metamfetamin). Ganja, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun kecanduan. Bahkan, di masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, di mana hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Hal ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol, yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga tersiksa secara fisik, dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.
Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang membandingkan efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja memang efektif sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine, metoclopramide, chlorpromazine, thiethylperazine, haloperidol, domperidone, atau alizapride, tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah pasien mengalami gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya seperti pusing, depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension

Fakta Vs Mitos


Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mengetahui dengan pasti apa sebenarnya akibat yang ditimbulkan dari penggunaan ganja atau marijuana. Mereka tidak pernah mendapatkan informasi yang benar dan jujur mengenai efek dari zat yang terkandung dalam ganja. Informasi yang mereka peroleh umumnya bersumber dari suatu penelitian ilmiah yang tidak lengkap dan hanya sepihak. Banyak informasi yang keliru yang bisa kita temukan dari hasil penelitian tersebut. Sayangnya hukum dan undang-undang juga turut ambil bagian dari kekeliruan ini, sehingga vonis yang dikenakan bagi orang yang kedapatan memiliki ganja amat sangat berat dan sangat tidak adil. Hukuman yang diterima atas kepemilikan ganja lebih berat jika dibandingkan dengan dampak dan akibat yang di timbulkan atas penggunaan ganja.

Ada banyak mitos yang keliru dan sangat menyesatkan di seputar tanaman ganja ini. Mitos yang negatif terhadap tanaman ganja telah lama menghantui alam pikiran masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Oleh karena itulah maka ganja atau cannabis atau marijuana menjadi momok menakutkan yang kerap menghantui pikiran tiap orang apabila mendengarnya, terutama bagi orang tua yang memiliki anak-anak remaja yang baru tumbuh dewasa. Mereka takut jika anak, saudara, atau teman mereka terkena pengaruh untuk mengkonsumsi ganja.
Dari beberapa penelitian ilmiah di bawah ini (disertai dengan referensi) terbukti bahwa ganja bukanlah sesuatu yang berbahaya seperti apa yang diketahui masyarakat selama ini. Berikut ini adalah beberapa bukti ilmiah yang mengungkapkan FAKTA yang sebenarnya dan sekaligus membantah anggapan yang salah selama ini.
1. MITOS : Ganja dapat mengakibatkan kecanduan yang sangat tinggi --> 
Menggunakan ganja dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kecanduan secara fisik dan membutuhkan ahli terapis untuk bisa berhenti dari kebiasaan menggunakan ganja.    
   FAKTA : Kebanyakan pengguna ganja hanya menghisap ganja sesekali saja --> Di Amerika Serikat hanya sedikit orang-orang yang mengkonsumsi ganja, hanya sekitar 1 persen dalam sehari orang mengisap ganja dan hanya sedikit sekali yang mengalami ketergantungan. Seorang pengguna berat ganja dapat berhenti dengan mudah tanpa mengalami kesulitan. Ganja tidak menyebabkan ketergantungan fisik. Jika orang mengalami gejala putus ganja, mereka tidak akan mengalami masalah yang berarti 
2. MITOS : Ganja sekarang berpotensi lebih berbahaya dibanding yang dulu --> Orang dewasa yang pernah menggunakan ganja di tahun 1960-an dan 1970-an tidak menyadari bahwa remaja sekarang menggunakan ganja yang jauh lebih berbahaya.
    FAKTAGanja yang dikonsumsi remaja sekarang adalah sama seperti yang pernah di gunakan remaja di tahun 1960 dan 1970 an --> Sejumlah kecil sample THC rendah yang disita oleh Drug Enforcement Administration digunakan untuk menghitung adanya potensi peningkatan yang dramatis. Namun, sample tersebut tidak mewakili ganja secara umum yang ada saat ini. Data potensial dari tahun 1980-an sampai sekarang lebih dapat di percaya yang mana data tersebut menunjukkan tidak adanya peningkatan rata-rata kadar THC dalam ganja. Walaupun jika ganja berpotensi mengalami peningkatan, itupun belum tentu membuatnya menjadi lebih berbahaya. Marijuana cukup bervariasi secara substansial dalam potensi menghasilkan efek psikoaktif yang serupa.
3. MITOSPelanggaran hukum atas penggunaan ganja dikenakan sangsi hukum yang ringan --> Hanya sedikit pengguna ganja yang ditahan di penjara. Perlakuan yang lunak diterapkan pada peredaran ganja dan pada pengguna ganja.
   FAKTAPenangkapan pengguna ganja di Amerika Serikat jumlahnya meningkat dua kali lipat antara tahun 1991 dan 1995 --> Pada tahun 1995, lebih dari satu setengah juta orang ditahan karena pelanggaran ganja. Delapan puluh enam persen dari mereka ditangkap karena memiliki ganja. Puluhan ribu orang sekarang di penjara karena mengkonsumsi ganja. Mereka sebagian besar dihukum dengan hukuman masa percobaan, denda, dan sanksi perdata, termasuk penyitaan atas kepemilikan harta benda, SIM mereka dicabut, dan pekerjaan mereka berakhir. Meskipun di ancam dengan sanksi perdata dan pidana, ganja tetap saja tersedia dan banyak digunakan.
4. MITOSGanja dapat merusak paru-paru lebih besar dibanding tembakau --> Orang yang mengisap ganja memiliki risiko tinggi terkena kanker paru-paru, bronchitis, dan emphysema.
   FAKTAOrang yang merokok ganja secara moderat sedikit terkena bahaya kerusakan pada paru-paru --> Seperti halnya asap rokok, asap ganja mengandung sejumlah iritasi dan karsinogen. Tapi pengguna ganja biasanya tidak terlalu sering mengisap ganja di bandingkan perokok tembakau dan ini menyebabkan perokok ganja menghirup asap jauh lebih sedikit. Dampaknya, resiko kerusakan paru-paru bagi perokok ganja jauh lebih rendah dibanding perokok tembakau. Tidak ada laporan mengenai kangker paru-paru yang di akibatkan semata-mata karena sebab penggunaan ganja. Bahkan dalam studi besar yang disampaikan oleh American Thoracic Society tahun 2006, tidak di temukan bukti peningkatan resiko terkena kangker paru-paru bagi pengguna berat ganja. Tidak seperti perokok berat tembakau, pada perokok berat ganja tidak menunjukkan adanya penyumbatan jalan napas paru-paru. Itu menunjukkan bahwa orang yang merokok ganja tidak akan mengalami emfisema.
5. MITOSGanja dapat menyebabkan kerusakan mental permanen --> Di antara remaja, bahkan yang jarang menggunakan ganja sekalipun bisa mengalami kerusakan psikologis. Selama mabuk, pengguna ganja menjadi tidak rasional dan sering tidak konsisten dalam bekerja.
   FAKTATidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa ganja dapat menyebabkan kerusakan psikologis atau penyakit mental baik remaja atau orang dewasa --> Beberapa pengguna ganja mengalami tekanan psikologis setelah menggunakan ganja yang mungkin mencakup perasaan panik, gelisah, dan paranoia. Pengalaman seperti itu bisa menakutkan, tapi efeknya hanya bersifat sementara. Dengan dosis yang sangat besar, ganja dapat menyebabkan psikosis toksik sementara. Ini pun jarang terjadi, walaupun ganja di konsumsi dengan cara di makan atau di hisap seperti rokok. Ganja tidak menyebabkan perubahan mendasar dalam perilaku orang.
6. MITOSGanja tidak dapat digunakan sebagai obat --> Sudah tersedia obat-obatan yang lebih efektif dan aman. Obat-obatan tersebut termasuk versi sintetik THC, yaitu bahan aktif utama ganja yang dipasarkan di Amerika Serikat dengan nama Marinol
   FAKTAGanja terbukti efektif dalam mengurangi rasa mual pada kemoterapi kanker, merangsang nafsu makan pada pasien AIDS, dan mengurangi tekanan intraokuler pada orang yang mengidap glaukoma --> Ada bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa ganja dapat mengurangi kelenturan otot pada pasien dengan gangguan neurologis. Kapsul sintetis tersedia dengan resep dokter, tetapi untuk kebanyakan pasien kapsul tersebut tidak seefektif di banding dengan cara di hisap seperti rokok. THC murni juga dapat menimbulkan efek samping psikoaktif yang tidak menyenangkan dibandingkan merokok ganja. Saat ini banyak orang yang menggunakan ganja sebagai obat meskipun illegal. Akibatnya mereka berisiko tertangkap dan di penjara.
7. MITOSGanja adalah jalan menuju narkoba yang lebih berbahaya --> Meskipun ganja hanya sedikit mengakibatkan kerugian, ganja adalah zat berbahaya karena dapat menyebabkan penggunaan narkoba lain yang lebih berat seperti heroin, LSD, dan kokain.
   FAKTAGanja tidak menyebabkan orang untuk menggunakan narkoba --> Teori gateaway to drugs muncul sebagai penjelasan kausal mengenai hubungan statistik antara narkoba secara umum. Asosiasi yang berubah dari waktu ke waktu terhadap narkoba berbeda pada peningkatan dan penurunan prevalensi. Ganja adalah narkoba yang paling populer di Amerika Serikat saat ini. Oleh karena itu, orang-orang yang sudah menggunakan narkoba seperti heroin, kokain, dan LSD, cenderung ingin menggunakan ganja juga. Kebanyakan pengguna ganja tidak pernah menggunakan obat terlarang lainnya. Memang, bagi sebagian besar orang ganja adalah terminus daripada sebagai gateway drugs.
8. MITOSBahaya ganja telah terbukti secara ilmiah --> Pada tahun 1960-an dan 1970-an, banyak orang percaya bahwa ganja itu tidak berbahaya. Hari ini kita tahu bahwa ganja jauh lebih berbahaya daripada yang kita yakini sebelumnya.
   FAKTASetelah meninjau pada bukti ilmiah tahun 1972, Komisi Nasional Penyalahgunaan Ganja dan Narkoba (National Commission on Marihuana and Drug Abuse) menyimpulkan bahwa selama ini bahaya ganja terlalu dibesar-besarkan --> Sejak saat itu ribuan penelitian dilakukan terhadap manusia, hewan, dan sel-sel budaya. Dari penelitian tersebut tidak ada satupun temuan yang berbeda dari apa yang telah dijelaskan oleh Komisi Nasional tahun 1972. Berdasarkan pada tiga puluh tahun penelitian ilmiah dari jurnal kedokteran Inggris ìLancet” pada tahun 1995, dapat disimpulkan bahwa: “merokok ganja, walaupun dalam jangka panjang, tidak berbahaya bagi kesehatan.”
9. MITOSGanja adalah penyebab Sindrom Amotivational --> Ganja membuat pengguna menjadi pasif, apatis, dan tidak tertarik pada masa depan. Siswa yang menggunakan ganja berprestasi rendah, dan pekerja yang menggunakan ganja menjadi tidak produktif.
   FAKTASelama dua puluh lima tahun, para peneliti telah gagal menemukan bukti bahwa ganja menyebabkan sindrom amotivational --> Orang yang mabuk terus-menerus (tanpa menyangkut-pautkan dengan narkoba), tidak akan mungkin menjadi anggota masyarakat yang produktif. Tidak ada satupun efek dari ganja yang dapat mengakibatkan seseorang hilang kendali dan ambisi. Dalam studi laboratorium, subyek yang diberi ganja dalam dosis tinggi selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tidak menunjukkan penurunan dalam motivasi kerja atau produktivitas. Di antara orang dewasa yang bekerja, pengguna ganja cenderung mendapatkan upah lebih tinggi daripada non-pengguna. Mahasiswa yang menggunakan ganja memiliki nilai sama dengan yang bukan pengguna. Di antara siswa SMA, penguna berat ganja terkait dengan kegagalan sekolah, tetapi kegagalan sekolah biasanya datang sebelum siswa tersebut menggunakan ganja.
10. MITOSKebijakan mengenai ganja di Belanda adalah sebuah kesalahan --> Hukum di Belanda yang memungkinkan orang membeli, menjual, dan menggunakan ganja secara terbuka, telah menyebabkan peningkatan penggunaan ganja, khususnya di kalangan remaja.
    FAKTAKebijakan hukum narkoba di Belanda adalah yang paling terbuka di Eropa --> Selama lebih dari dua puluh tahun, warga negara Belanda di atas usia 18 tahun telah diizinkan membeli dan menggunakan ganja dan hasish di kedai kopi yang diatur pemerintah. Kebijakan ini tidak berdampak pada peningkatan pengguna ganja. Untuk kelompok usia tertentu, tingkat penggunaan ganja di Belanda adalah sama dengan di Amerika Serikat. Namun, untuk remaja muda, tingkat penggunaan ganja lebih rendah di Belanda daripada di Amerika Serikat. Masyarakat Belanda sangat setuju dengan kebijakan ganja saat ini yang bertujuan untuk menormalkan dramatisasi atas penggunaan ganja. Pemerintah Belanda kadang-kadang merevisi kebijakan yang ada, tapi tetap berkomitmen untuk dekriminalisasi.
11. MITOSGanja dapat membunuh sel otak --> Apabila digunakan secara terus menerus, ganja dapat mengubah struktur dan fungsi otak secara permanen, menyebabkan kehilangan memori, gangguan kognitif, kerusakan kepribadian, dan menyebabkan berkurangnya produktivitas.
    FAKTATidak pernah ada medical test yang digunakan untuk mendeteksi kerusakan otak pada manusia akibat mengkonsumsi ganja, bahkan dari penggunaan jangka panjang dengan dosis tinggi sekalipun --> Sebuah studi awal melaporkan adanya kerusakan pada otak kera setelah enam bulan di cekoki asap ganja berkonsentrasi tinggi. Baru-baru ini, dengan didasari penelitian yang lebih hati-hati, para ilmuan tidak menemukan bukti adanya kelainan otak pada monyet yang dipaksa untuk menghirup asap ganja setara 4-5 batang rokok ganja setiap hari selama setahun. Klaim bahwa ganja membunuh sel-sel otak adalah berdasarkan laporan spekulatif sejak seperempat abad yang lalu dan belum pernah didukung oleh studi ilmiah.
12. MITOSGanja mengganggu Memori dan Kognisi --> Di bawah pengaruh ganja, orang tidak mampu berpikir rasional dan cerdas. Pengguna ganja kronis akan mengalami penurunan mental secara permanen.
   FAKTAGanja mengakibatkan perubahan sementara dalam berfikir, persepsi dan pengolahan informasi --> Proses kognitif yang paling jelas dipengaruhi oleh ganja adalah memori jangka pendek. Dalam studi laboratorium, subyek di bawah pengaruh ganja tidak mengalami kesulitan dalam mengingat hal-hal yang pernah mereka pelajari sebelumnya. Namun mereka menampilkan berkurangnya kapasitas untuk belajar dan mengingat informasi baru. Pengaruh berkurangnya daya ingat ini hanya berlangsung sementara saja. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa penggunaan ganja untuk jangka panjang bisa mengganggu memori atau fungsi kognitif lainnya secara permanen.
13. MITOSGanja penyebab kriminalitas --> Pengguna ganja cenderung melakukan kekerasan lebih dari non pengguna. Di bawah pengaruh ganja, orang menjadi tidak rasional, agresif, dan kasar.
     FAKTAGanja tidak menyebabkan tindak kejahatan --> Kalangan ilmuwan dan komisi pemerintah memeriksa hubungan antara penggunaan ganja dan kejahatan dan mereka telah mencapai kesimpulan yang sama bahwa: Ganja tidak menyebabkan kejahatan. Sebagian besar pengguna ganja tidak melakukan kejahatan lain selain kejahatan karena memiliki ganja. Pengguna ganja yang melakukan kejahatan bukan disebabkan oleh pengaruh ganja, melainkan karena faktor lain di luar ganja. Studi pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa ganja dapat merngurangi peningkatan agresi pada manusia.
14. MITOSGanja mengganggu hormon seks pria dan wanita --> Ganja dapat menyebabkan kemandulan pada pria dan wanita. Ganja memperlambat perkembangan seksual pada remaja. Ganja menghasilkan karakteristik feminin pada pria dan karakteristik maskulin pada perempuan.
     FAKTATidak ada bukti bahwa ganja menyebabkan kemandulan pada pria atau wanita --> Dalam sebuah penelitian yang menggunakan hewan percaobaan, dosis tinggi THC mengurangi produksi beberapa hormon seks dan dapat mengganggu reproduksi. Namun, lebih banyak studi tentang manusia yang membuktikan bahwa ganja tidak memiliki pengaruh hormon seks. Studi tersebut menunjukkan dampak yang sederhana, sementara, dan tidak ada konsekuensi yang jelas terhadap proses reproduksi. Tidak pernah ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa ganja dapat memperlambat perkembangan seksual remaja dan mengakibatkan efek feminisasi pada laki-laki, atau efek maskulinisasi pada perempuan.
15. MITOSMengkonsumsi ganja pada saat hamil dapat merusak Janin --> Kerusakan janin yang terjadi bisa mengakibatkan cacat pada bayi saat lahir. Di saat masa pertumbuhan, anak tersebut akan mengalami masalah. Sang anak juga akan terancam masalah kesehatan.
     FAKTAStudi pada bayi yang baru lahir dan anak-anak tidak menunjukkan adanya kekurangan fisik yang konsisten, perkembangan, atau defisit kognitif yang terkait dengan penggunaan ganja pada waktu kehamilan. Penggunaan ganja di saat kehamilan tidak berdampak pada ukuran berat bayi saat di lahirkan, usia kehamilan, perkembangan saraf, atau terjadinya kelainan fisik. Salinan test pada ratusan anak yang lebih tua hanya mengungkapkan perbedaan kecil antara keturunan pengguna ganja dan non pengguna. Dua studi lain yang belum terkonfirmasi adalah identifikasi pemakaian ganja selama masa kehamilan terkait dengan penyakit kangker pada anak. Mengingat tidak adanya bukti-bukti lain yang mndukung, sangat tidak mungkin bahwa ganja bisa menyebabkan kanker pada anak-anak.
16. MITOSGanja dapat merusak sistem kekebalan tubuh --> Mengkonsumsi ganja dapat meningkatkan risiko infeksi, termasuk HIV. Pasien AIDS sangat rentan terhadap efek immunopathic ganja karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah hilang.
     FAKTATidak ada bukti bahwa pengguna ganja lebih rentan terhadap infeksi di banding non pengguna --> Juga tidak ada bukti bahwa ganja dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit seksual yang menular. Studi awal yang menunjukkan adanya penurunan fungsi kekebalan tubuh dalam sel yang diambil dari pengguna ganja telah disangkal. Hewan yang terkena virus diberi THC dalam dosis yang besar memiliki resiko infeksi yang lebih tinggi. Studi semacam itu memiliki relevansi sedikit pada manusia. Bahkan orang dengan gangguan kekebalan tubuh seperti AIDS relative aman menggunakan ganja. Namun, penelitian baru-baru ini menemukan hubungan antara merokok tembakau dan infeksi paru-paru pada pasien AIDS jauh lebih memungkinan bahaya merokok ganja bagi orang yang mengalami masalah kekebalan tubuh.
17. MITOSGanja penyebab utama kecelakaan lalu-lintas --> Seperti alkohol, ganja merusak fungsi psikomotor dan menurunkan kemampuan mengemudi. Apabila penggunaan ganja meningkat, peningkatan kecelakaan fatal lalu lintas tak terelakkan.
     FAKTATidak ada bukti yang meyakinkan bahwa marijuana menyumbang banyak pada kecelakaan lalu lintas dan kematian --> Pada dosis tertentu ganja mempengaruhi persepsi dan kinerja psikomotor, yaitu perubahan yang dapat mengganggu kemampuan mengemudi. Akan tetapi pada studi mengenai kemampuan mengemudi, ganja hanya sedikit mempengaruhi kempuan seseorang dalam mengemudikan kendaraan. Pada pengguna ganja tidak ada penurunan konsistensi saat menyetir mobil seperti pengguna alcohol yang cenderung beresiko kecelakaan. Ganja cenderung membuat si pengemudi lebih berhati-hati. Survei menunjukkan bahwa ketika THC terdeteksi dalam darah, alkohol hampir selalu terdeteksi juga. Untuk beberapa individu, ganja mungkin memainkan peran dalam kualitas mengemudi, namun secara keseluruhan tingkat kecelakaan jalan raya tampaknya tidak akan terpengaruh oleh penggunaan ganja secara luas di masyarakat.
18. MITOSGanja terkait pada peningkatan pasien darurat rumah sakit --> Ini adalah bukti bahwa ganja jauh lebih berbahaya dari apa yang di percaya orang selama ini.
     FAKTAMarijuana tidak menyebabkan kematian overdosis  --> Jumlah orang di ruang gawat darurat rumah sakit yang mengatakan diri mereka telah menggunakan ganja meningkat. Atas dasar inilah catatan kunjungan di rumah sakit digunakan sebagai bukti bahwa ganja ada kaitannya walaupun tidak ada hubungannya dengan kondisi medis sebelum datang ke rumah sakit. Lebih banyak remaja yang menggunakan ganja daripada obat-obatan seperti heroin dan kokain. Akibatnya, ketika remaja mengunjungi kamar rumah sakit darurat, mereka melaporkan penggunaan ganja jauh lebih sering daripada mereka melaporkan heroin dan kokain. Pada sebagian besar kasus-kasus ketika ganja disebutkan, obat lain juga disebutkan.
19. MITOSPenggunaan ganja oleh bawah umur dapat dicegah --> Pendidikan tentang bahaya narkoba dapat mengurangi penggunaan ganja pada tahun 1980. Tetapi setelah pendidikan tentang bahaya narkoba tersebut dikurangi, jumlah pengguna ganja jadi meningkat. Dengan memperluas dan mengintensifkan pesan anti-ganja, kita bisa menghentikan remaja yang ingin mencoba.
     FAKTATidak ada bukti bahwa pesan anti narkoba dapat mengurangi minat orang muda untuk mencoba narkoba --> Kampanye anti-narkoba di sekolah-sekolah dan media massa justru malah membuat narkoba jadi lebih menarik. Pengguna ganja di antara remaja menurun sepanjang tahun 1980, dan mulai meningkat lagi pada tahun 1990-an. Peningkatan ini terjadi di saat pemerintah gencar melakukan kampanye anti narkoba/ganja, inilah kampanye anti-ganja terbesar dalam sejarah Amerika. Di sejumlah negara lain, program pendidikan anti narkoba didasarkan pada ìharm reductionî, yang bertujuan untuk mengurangi akibat buruk narkoba di kalangan remaja yang mulai mencoba-coba narkoba.

Pemanfaatan

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak.
Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan.
Di sejumlah negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah varietas yang ditanam harus mengandung bahan narkotika yang sangat rendah atau tidak ada sama sekali.
Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan.
Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong.
Ganja selama ini dikenal sebagai bahan terlarang dan masuk kategori narkotika kelas I di hukum Indonesia. Namun lain hal bagi Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Menurut komunitas ini, ganja justru memiliki banyak manfaat sehingga tidak perlu dikategorikan sebagai narkotika, diantaranya adalah :
1. Ganja yang sudah diolah untuk industri disebut hemp. Hemp itu bisa menghasilkan lebih dari 50.000 produk, seperti tali temali, tekstil, karung goni dan lain-lain
2. Ganja memiliki manfaat besar di bidang medis karena mampu menjadi bahan terapi untuk berbagai macam penyakit
3. Penggunaan ganja sebagai bahan rekreasi juga dianggap bagian dari hak personal masing-masing orang, selama kegiatan tersebut tidak mengganggu kenyamanan orang lain
LGN akan mencari donasi dan melakukan penelitian tentang manfaat ganja dengan mengajak kerja sama pihak lain, diantaranya adalah RSCM dan FKUI dengan tujuan mengeluarkan ganja dari kategori narkotika kelas I.

Budidaya

Tanaman ini ditemukan hampir disetiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca.
Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya.
Hasil panen ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasyis.
Hemp dan marijuana merupakan varietas yang sangat berbeda dari pohon bernama Cannabis Sativa L. Perbedaan utama dari varietas tersebut adalah kadar THC, kandungan psikoaktif marijuana sekitar 5-20% sedangkan kandungan maksimum THC hemp adalah 0,000010%.
biji dan minyak Hemp legal di 35 negara termasuk Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, dll. Biji Hemp (sudah mati), minyak Hemp dan produk dari Hemp bahkan dapat di import secara legal ke Amerika; negara yang masih melarang penanaman dan pemanfaatan ganja.
Negara Indonesia tidak memanfaatkan biji dan miyak Hemp. Hal ini juga dipertegas oleh Undang-undang Narkotika di negara kita bahwa seluruh bagian dari pohon Cannabis Sativa L. tidak dapat dimanfaatkan.
Sampai saat ini, penelitian menunjukah bahwa berdasarkan jumlah kadar THC dalam produk makanan dan kecantikan dari Hemp, hampir tidak mungkin terdetekasi oleh alat tes narkoba.
Biji Hemp merupakan salah satu sumber protein nabati terlengkap (no 2 setelah kedelai) dengan kandungan protein sebesar 23% dari komposisi bijinya, 34% serat, dan 31% lemak dalam bentuk minyak yang mengandung omega 3 dan 6 dengan rasio 1:3.

Pelafalan dalam bahasa lain

Sebutan lain: marijuana (bahasa Inggris), tampee (bahasa Inggris Jamaika), pot, maui wowie, weed, dope atau green stuff (slang bahasa Inggris), cimeng, baks, skab, jame, jankry, atau gele (slang bahasa Indonesia).











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar